Skip to content

Plataran Bromo sebagai Pelopor Pengalaman Budaya dan Pelestarian Tradisi

Bromo dikenal luas sebagai salah satu destinasi matahari terbit paling ikonik di Jawa Timur. Setiap pagi, pengunjung datang dari berbagai penjuru Indonesia hingga mancanegara untuk menyaksikan cahaya pertama yang menyentuh punggung gunung berapi. Namun, jauh sebelum menjadi tujuan perjalanan, dataran tinggi ini telah lama menjadi ruang hidup yang dibentuk oleh kebutuhan, keyakinan, dan cara hidup yang menyatu dengan alam.

Berabad-abad silam, ketika Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan kekuasaan di Pulau Jawa bergeser, kelompok masyarakat Hindu memilih meninggalkan wilayah dataran rendah. Pegunungan menawarkan ruang untuk mempertahankan tradisi. Kawasan vulkanik di sekitar Gunung Bromo kemudian menjadi tempat untuk menetap, bertani, beribadah, dan membangun kehidupan yang berkelanjutan lintas generasi.

Dari perjalanan sejarah inilah lahir masyarakat Tengger, yang asal-usulnya terhubung erat dengan legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Nama keduanya disatukan menjadi “Tengger”, sebuah kisah yang diwariskan melalui cerita keluarga dan ritual adat. Dalam legenda tersebut, pasangan ini dikaruniai dua puluh lima anak oleh Dewa Brahma melalui sebuah pengorbanan yang menuntut keyakinan dan keteguhan. Hingga kini, kisah tersebut menjadi rujukan penting dalam memahami nilai syukur, tanggung jawab, dan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat Tengger.

Hidup Berdampingan dengan Alam

IMG

Bagi masyarakat Tengger, alam tidak dipandang sebagai sekadar latar pemandangan. Gunung, tanah, kabut, hingga aktivitas vulkanik dipahami sebagai bagian dari kekuatan hidup yang patut dihormati. Pemahaman ini tercermin dalam keseharian mereka, mulai dari kegiatan bertani hingga pelaksanaan upacara adat.

Dataran tinggi Bromo dikenal dengan tanah vulkanik yang subur, menghasilkan komoditas seperti kentang, kubis, dan daun bawang. Pertanian dijalankan secara turun-temurun, dengan pengetahuan yang diwariskan di dalam keluarga. Praktik ini menunjukkan kesinambungan antara masa lalu dan kehidupan masyarakat saat ini.

Salah satu tradisi yang mencerminkan hubungan tersebut adalah “Tetamping”. Ritual ini dijalankan sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus perenungan, dengan harapan dijauhkan dari marabahaya serta dianugerahi kebaikan dan kejernihan. Tetamping menjadi cara masyarakat Tengger menegaskan bahwa kehidupan di dataran tinggi bergantung pada keselarasan antara manusia dan alam.

Menjaga Tradisi Bersama Plataran Bromo

IMG

Sebagai pelopor dalam menghadirkan pengalaman budaya, Plataran Bromo mengambil peran aktif dalam menjaga dan melestarikan tradisi hidup masyarakat Tengger, sekaligus membuka akses bagi para tamu untuk memahami cara hidup yang berakar pada keyakinan, warisan budaya, dan hubungan erat dengan alam.

Keterkaitan antara alam, budaya, dan komunitas menjadi dasar kehadiran Plataran Bromo di kawasan ini. Sejak awal, pendekatannya diarahkan oleh penghormatan terhadap tradisi lokal. Hal tersebut ditandai dengan pembangunan Pura Basuki sebagai bangunan pertama di Plataran Bromo. Pura ini menjadi simbol penghargaan terhadap masyarakat setempat dan tetap digunakan sebagai tempat ibadah.

Lebih dari sekadar menyediakan ruang, Plataran Bromo mengajak tamu untuk mengenal konteks budaya Bromo melalui berbagai pengalaman yang mendorong pemahaman dan keterlibatan. Ritual adat tetap didukung, sementara aktivitas pertanian terus berlangsung di wilayah sekitar seperti Tanggulangin. Para tamu dapat mengamati, ikut serta, dan belajar, memahami bagaimana kehidupan sehari-hari di Bromo terjalin selaras dengan tradisi yang telah lama dijaga.

Ruang untuk Mengenal Bromo Lebih Dekat

IMG

Di Plataran Bromo, pemgalaman tidak berhenti pada panorama dan destinasi. Ia menjadi pintu masuk untuk mengenal Bromo melalui budayanya yang hidup, dibentuk oleh keyakinan, alam, dan ikatan komunitas yang masih terjaga hingga kini. Plataran Bromo mengundang para tamu untuk menjalin kedekatan yang lebih dalam dengan tradisi Bromo, serta merasakan dataran tinggi ini sebagai ruang di mana sejarah dan kehidupan sehari-hari terus berjalan berdampingan.

Back To Top